Bagaimana Memberikan Pendidikan Seks Kepada Anak?

Kids

Dian tampak sangat kaget, ketika suatu hari, anaknya Lita yang masih balita berlarian ke arahnya. “Mama, aku tadi liat Anto kencing, kok … cara kencingnya beda sama aku, ya?”

Dian bingung, harus menjawab apa. Sayang, bukannya menjelaskan hal sebenarnya, ia malah membentak Lita. “Huz! Lita nggak boleh tanya seperti itu! Saru!

Lita pun sontak mengkeret dan tak berani bertanya-tanya lagi.

* * *

Bagi masyarakat Jawa yang cenderung tertutup, seks memang suatu hal yang tabu dibicarakan. Para orangtua cenderung menganggap seks sebagai sesuatu yang saru, atau pamali. Ini tentu hal yang kurang tepat, karena anak justru akan mendapatkan pengetahuan seks dari sumber-sumber yang justru menyesatkan. Apalagi, sekarang telah beredar media-media tak bertanggungjawab, yang begitu mudah  bisa diakses oleh anak, seperti video porno, situs-situs porno dan sebagainya.

Menurut para pakar pendidikan, pendidikan seks bahkan harus diberikan kepada anak sedini mungkin. Dan orang tua, tentu menjadi orang pertama yang paling bertanggungjawab untuk memberikan pemahaman tersebut. Tentu saja, pendidikan itu disesuaikan dengan kemampuan berlogika si anak. Memberikan pendidikan seks kepada anak, bukan berarti menjelaskan bagaimana cara berhubungan seks. Pendidikan seks itu sangat luas, bahkan hubungan seks itu sebenarnya hanya sebagian kecil dari pendidikan seks itu sendiri.

Beberapa hal yang perlu kita tanamkan kepada anak sejak dini adalah sebagai berikut:

  • Memberitahukan organ-organ seks dan fungsinya. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Misalnya, penis berfungsi untuk pipis. Vagina berfungsi untuk keluar adik bayi. Payudara untuk memberi ASI kepada adik bayi. Sebaiknya jangan menggunakan istilah lain untuk alat-alat tersebut, misalnya ‘pisang’ untuk menyebut penis.
  • Juga perbedaan antara organ reproduksi pada lelaki dan perempuan, yang menyebabkan terjadinya perbedaan jenis kelamin. Katakan pada si anak, bahwa manusia itu ada dua jenis, yakni lelaki dan perempuan, yang keduanya saling mendukung. Misalnya, si perempuan jadi ibu yang hamil dan melahirkan, lalu si laki-laki menjadi ayah yang mencari nafkah.
  • Perbedaan jenis kelamin tersebut harus ditekankan, dan sebisa mungkin, ajari anak untuk melakukan sesuatu seperti fitrahnya. Misalnya, jika anak lelaki, ajarilah kegiatan-kegiatan yang bersifat maskulin, seperti membersihkan mobil, bongkar-pasang roda kendaraan; dan para perempuan kegiatan-kegiatan feminim seperti mengasuh adik bayi atau memasak. Tentu ini tidak mutlak, dalam artian bukan kita kemudian melarang anak perempuan untuk memanjat pohon, atau anak lelaki belajar memasak misalnya. Yang harus kita atur adalah frekuensinya. Hal ini akan berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak saat dewasanya. Tentu kita tak ingin jika anak lelaki kita terlihat feminim, bukan?
  • Tanamkan kepada si anak, bahwa organ-organ seks itu adalah aurat yang harus ditutupi, tak boleh terlihat, dan tak boleh dipegang siapapun. Kecuali orangtua kalau mau menceboki. Sebaiknya, ketika anak sudah bisa cebok sendiri, bahkan orangtua juga menjaga privasi tersebut. Hal ini juga akan mencegah terjadi pelecehan-pelecehan seksual dari para pelaku paedofilia yang sering kita dengar. Katakan pada mereka, “Jika ada yang pegang aurat dedek, siapapun itu, segera lari atau berteriak, atau lawan!”
  • Beritahu mereka batas-batas aurat, dan sedini mungkin ajari untuk menutupnya, misal jika anak perempuan, latihlah untuk memakai jilbab. Di beberapa TK Islam, biasanya anak-anak sudah diajari hadits “inna nuhina anturo ‘aurotuna, sesungguhnya kita dilarang untuk menampakkan aurat kita.” Sebaiknya, hadits ini justru orang tua yang terlebih dahulu memperkenalkan, bukan guru-guru di TK.
  • Tanamkan kepada mereka konsep ‘malu’ jika aurat, khususnya organ vital terbuka atau dilihat orang. Latih juga agar mereka mencari tempat yang sepi/terlindung saat berganti baju.
  • Ajari anak konsep 3 waktu di mana mereka tidak boleh memasuki kamar orangtuanya sebagaimana tercantum dalam Surat An-Nuur: 58 “ …Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu ….”
  • Ajari anak shalat sejak dini, agar ketika mereka telah baligh, mereka telah terbiasa shalat. Dan pisahkan tempat tidur anak-anak dengan orangtuanya, serta anak lelaki dengan anak perempuan, sebagaimana sabda Nabi, “Suruhlah anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika berusia sepuluh tahun (bila belum mau mengerjakan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan).Dan apabila salah seorang dari kamu menikahkan hamba sahayanya atau karyawannya janganlah kamu melihat auratnya sedikitpun. Sungguh , bagian tubuh dari pusar hingga lutut adalah aurat” (HR.Abu Dawud).

Beberapa hal tersebut hanya sebagian dari contoh pendidikan seks pada anak usia dini. Satu hal yang perlu dicatat, hal tersebut hanya akan bisa diperoleh jika terdapat komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Jadilah kita, para orangtua, sebagai sahabat si anak.  Sahabat sekaligus guru yang senantiasa dibutuhkan saat mereka dalam kebingungan. Selain waktu yang kita berikan kepada mereka, kita juga butuh banyak belajar untuk bisa membersamai mereka agar bisa tumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya.

Penulis: Yeni Mulati Ahmad

Editor: Ummu Arfan

Sumber Foto:DARI SINI

You may also like...

4 Responses

  1. Hamba Allah says:

    Artikel yang sangat bermanfaat. Terimakasih, Bu…

  2. Afifah Afra says:

    Jika ada kebaikan, mohon dishare ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *