Indahnya Taubat #2

Tidak semua taubat bisa diterima Allah. Banyak di kalangan manusia yang seringkali menyesal, berderai-derai air mata dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatannya. Akan tetapi, baru beberapa saat berlalu, ia kembali bermaksiat, dan ia ulangi maksiat itu terus menerus. Taubatnya mirip seseorang yang suka makan pedas. Saat kepedasan, ia kapok, namun ia ulangi lagi di kesempatan lain.

Taubat dari dosa, menurut Imam Al-Ghazali, adalah kembali kepada Sang Maha Penutup aib dan Yang Maha Mengetahui yang ghaib (Allah swt). Ia merupakan awal perjalanan orang-orang yang berjalan, modal orang-orang sukses, langkah awal para pencinta kebaikan, kunci istiqamah orang-orang yang cenderung kepada-Nya, awal pemilihan dari orang-orang yang mendekatkan dirinya, seperti bapak kita Adam a.s., dan seluruh para Nabi. (Ihya Ulumuddin juz IV hal 3).

Taubat semacam inilah yang disebut dengan Taubat Nashuha, taubat yang sebenar-benarnya, murni dan tulus, sebagaimana firman Allah swt, ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Tahrim : 8)

Adapun syarat-syarat taubat, seperti yang disebutkan Imam Nawawi dalam Kitab Riyadhus-Shalihin adalah sebagai berikut:

  • Meninggalkan kemaksiatan yang tengah dilakukannya.
  • Menyesali perbuatannya.
  • Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya.
  • Jika terkait dengan hak-hak orang lain maka hendaklah ia mengembalikannya kepada yang memilikinya. Misalnya, ia pernah mencuri harta milik seseorang, maka ia harus berusaha keras mengembalikan harta tersebut.

Jadi, mengapa tak segera bertaubat? Mari bertaubat, sebelum pintu taubat ditutup oleh-Nya. Wallahu a’lam bishawab.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *