Banjir Tumbal #1

Banjir
Oleh Asri Istiqomah

Joko berusaha mengayuh sepeda bututnya dengan kencang. Sesekali pandangannya menatap ke atas, ke arah langit yang semakin menghitam dipeluk awan kelabu. Angin berkesiur kencang menampar wajah Joko, hingga membuat matanya menyipit karena menghindari debu-debu yang berputar di sekitarnya.
Tiiiin! Tiiin! Beberapa kali Joko hampir bertabrakan dengan kendaraan yang ramai berlalu-lalang di jalanan. Tampaknya tidak hanya dia yang ingin segera sampai di tempat tujuan. Suara klakson dan makian semakin membuat panas jalanan yang selalu ramai itu. Joko sendiri tidak ambil pusing dengan segala jenis makian itu, dia terus saja mengayuh sepedanya. Karena baginya makian adalah makanan sehari-hari yang biasa didengar orang miskin seperti dia.
Tiba-tiba Joko merasa punggung telapak tangannya terasa sejuk oleh buliran air. Sontak Joko mendongakkan wajah ke langit. Wajahnya berubah pias. Hujan?! Nggak!!! Jangan hujan!!! Duh Gusti Allah … jangan lagi Kau turunkan hujan! Joko memekik dalam hati. Dan dia semakin gila mengayuh sepeda ontel warisan ayahnya itu.
Tinggal beberapa belokan lagi, Joko akan sampai ke rumahnya. Gusti Allah, jangan Kau deraskan hujan ini. Kumohon. Mulutnya terlihat komat-kamit melafalkan semua doa-doa yang dihafalnya dari kiai di masjid kampungnya. Sesekali wajahnya kembali mendongak ke langit, seperti berharap agar hujan segera berhenti demi melihat muka memelasnya.
Dor!!! Sontak Joko mengerem. Duh, Gusti, apa lagi ini? Bergantian matanya melihat ke arah dua ban depan dan belakang. Ternyata ban belakang sepedanya pecah. Ya, pecah. Tidak hanya bocor, tapi sudah pecah. Bahkan ban yang memang sudah kepalang uzur itu tampaknya tak lagi bisa diperbaiki.
Sebenarnya sudah lama Joko ingin mengganti ban sepedanya, tapi tak pernah terwujud. Uang gaji dari bengkel tempatnya bekerja selalu habis untuk makan dan uang sekolah kedua adiknya, Retno dan Setyo.
Dengan setengah berlari, Joko menuntun sepeda bututnya menuju rumah. Ia tak memedulikan tubuh kurusnya mengigil di bawah guyuran hujan yang kian menderas. Dalam pikirannya hanya satu. Dia harus segera pulang!

BERSAMBUNG ke Banjir Tumbal #2

Banjir Tumbal #1

Banjir Tumbal #2

Banjir Tumbal #3

You may also like...

4 Responses

  1. Fahira says:

    Seru nih, kalau terus memuat cerpen

  1. February 11, 2016

    […] Baca Banjir Tumbal #1 […]

  2. February 12, 2016

    […] Banjir Tumbal #1 […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *