Banjir Tumbal #3

Banjir 2

Oleh Asri Istiqomah

Air sudah mulai menggenangi jalanan. Seluruh warga mulai panik, lantaran hujan hingga kini masih turun. Sesekali berhenti satu atau dua jam, setelah itu kembali deras. Beberapa warga termasuk Joko dan keluarganya kini kembali mengungsi di Langgar Mbah Mudin di seberang jalan. Sama seperti lima tahun lalu. Langgar Mbah Mudin, meskipun tidak terlalu luas tetapi kokoh dan bertingkat dua, sehingga warga tidak takut kalau akan hanyut.

Dari lantai atas langgar Joko tak bosan-bosannya menatap langit kelabu yang disertai hujan yang masih terus mengguyur. Sesekali pandangannya beralih ke deretan rumah-rumah yang mulai terendam air setinggi lebih dari satu setengah meter. Kini matanya tertuju pada rumah kecil berbentuk persegi, dengan atap didominasi seng dan dinding triplek.

Meski matanya masih melihat rumah itu utuh, tapi Joko belum tenang. Dia masih takut jika banjir akan kembali menghanyutkan rumah tripleknya itu.

Tiba-tiba saja terdengar suara orang-orang yang berteriak. Joko celingukan mencari asal suara tersebut. Rupanya dari tim SAR, mereka mengatakan tanggul besar sudah jebol dan air bah akan menghantam. Tim SAR itu juga meminta para warga untuk segera bersiap-siap jika sewaktu-waktu harus meninggalkan Langgar Mbah Mudin ini dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Lho piye tho?[1] Katanya pak wali tanggulnya kuat. Wong sebelum banjir kemarin aku melihat baik-baik saja koq, mosok sekarang jebol!?” laki-laki yang biasa dipanggil Lik[2] Tarno itu geleng-geleng kepala.

“Lha tanggule kan belum jadi, Lik. Pantas aja kalau jebol,” kali ini Mas Budi, tetangga sebelah rumah Joko ikut nimbrung.

Trus bagaimana nasib rumah kita, Pak? Apa ndak papa ditinggal mengungsi jauh?” Mbak Supini, istri Lik Tarno terlihat khawatir. Air matanya mulai membasahi pipinya.

”Ini pasti calon walikota cari tumbal lagi, Lik! Sebentar lagi kan pilkada,” ujar Mas Budi geram.

“Husy! Ora ilok![3], itu Syirik, Bud!” Lik Tarno dengan cepat menyanggahnya. Mas Budi mencelos mendengar sanggahan itu sambil terus memaki. Lik Tarno hanya geleng kepala. Dia memahami kekalutan hati Mas Budi. Para pejabat di kotanya memang terlalu sibuk mengurus kekuasaannya, sedang rakyat kecil seperti mereka terus beradu nyawa.

Joko mulai panik, bergantian dia melihat ibu dan kedua adiknya yang duduk berpelukan di pojok langgar. Kini pandangannya kembali menatap rumah triplek itu. Batinnya terus berkecamuk. Dia takut kehilangan rumah tripleknya dan juga takut jika salah satu keluarganya menjadi korban berikutnya. Wajahnya kembali menengadah ke langit, dan mulutnya terus komat-kamit. Duh, Gusti Allah, selamatkan rumah kami, pinta hatinya.

***

Ndak[4] ada sisa, Bu,” suara Retno menyentak Joko. Joko melihat ke arah Retno yang mengais lumpur di atas bekas rumahnya yang telah hanyut.

“Cari terus, Nduk![5]. Siapa tahu masih ada yang tersebunyi di dalam lumpur itu,” suara ibu tegas. Ibu Joko memang tangguh, ujian demi ujian yang melanda di hampir sepanjang hidupnya seakan tidak berbekas di hatinya. Joko menatap ibunya dengan tatapan bangga.

“Bu, aku lapar,” kini Setyo mulai rewel. Sambil meringis dia memegangi perutnya.

Mengko disik, Le[6]. Sabar. Nunggu kiriman dulu,” Joko berusaha menghiburnya.

“Nanti kayak tadi malam, ternyata tidak ada yang ngirim makanan,” sahut Setyo sambil bersungut-sungut.

Yo, sabar. Nanti kalau tidak ada kita beli makan. Ibu masih ada sedikit uang,” ibu menenangkan.

Tak berapa lama keempat anak beranak itu pun tenggelam dalam kesibukan masing-masing, mencari sisa-sisa barang yang mungkin terendam dalam lumpur.

“Nanti kita tinggal di mana, Bu. Rumah kita kan sudah gak ada,” Retno memecah keheningan.

Heh, mbuh lah[7]. Ibu juga bingung. Surat-surat tanah juga hanyut entah kemana,” ibu kini menatap Joko lekat, seakan mencari jawaban dari anak pertamanya.

“Mungkin untuk sementara tetap di Langgar Mbah Mudin dulu, nanti Mas Joko akan menghubungi kelurahan. Siapa tahu ada informasi tentang bantuan,” ujar Joko bersikap searif mungkin. Perlahan matanya kembali menatap langit Solo yang mulai ceria, sedang mulutnya tak berhenti komat-kamit.

***

Harian Kota Solo (6/7), Pemerintah Kota Solo mengatakan akan melakukan relokasi terhadap pemukiman warga yang terkena banjir sepekan lalu. Namun relokasi ini hanya diperuntukkan bagi warga yang masih menyimpan surat-surat tanah.

”Untuk sementara ini, hanya yang masih mempunyai surat-surat akte tanah. Sedangkan untuk warga lainnya nanti akan kami pikirkan jalan keluarnya,” kata pejabat Dinas Sosial Kota Solo saat memberikan konferensi pers.

Joko tercekat membaca koran di tangannya. Ia menatap ke arah ibu dan kedua adiknya yang sedang asyik menikmati nasi bungkus di dekat tumpukan barang-barang, di atas bekas rumah mereka yang hanyut.

Mata bulatnya kembali mendongak, menatap langit Solo yang ceria. Sedangkan mulutnya tak henti-hentinya komat-kamit. TAMAT.

Sumber foto: www.shutterstock.com

Banjir Tumbal #1

Banjir Tumbal #2

Banjir Tumbal #3

Biodata Penulis

Asri Istiqomah, S.Sos lahir di Sragen, 29 Septmber 1985. Pernah menjabat sebagai Ketua Forum Lingkar Pena Surakarta. Saat ini tinggal di Solo bersama keluarganya.

 

KOSAKATA

[1] Lho bagaimana sih?

[2] Paman

[3] Tidak baik!

[4] Tidak

[5] Panggilan untuk anak gadis

[6] Nanti dulu, Le.

[7] Heh, entahlah.

You may also like...

3 Responses

  1. Anita says:

    Based on real Story ya bu?

  1. February 12, 2016

    […] BERSAMBUNG ke Banjir Tumbal #3 […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *