Kadang, Futur Itu Kita Ciptakan

taubatOleh Eko Novianto

Janganlah kamu kagum pada amalan seseorang sebelum kamu melihat bagaimana ia mengakhiri amalnya” (Hadits riwayat Ahmad, terambil dari buku Afaatun ‘Alaa Ath-Thariq).

Jangan kagum, demikian ngendikanipun kanjeng nabi. Demikian pesan Nabi Muhammad saw.

Jangan kagum pada amal sampai kita tahu soal konsistensi dan determinasi dari amal itu. Baik itu tentang amal orang lain, apa lagi kagum pada amal kita sendiri.

Jangan kagum, sampai kita fahami se-istiqomah apa sebuah amal.

Karena setiap amal dibayangi futur.
Inna li kulli ‘amalin sirrotan. Wa likulli sirrotin fatrotan“. Pada setiap amal, pada setiap aktivitas, atau pada setiap agenda ada masa menyala-nyalanya. Ada masa semangatnya, tetapi ada masanya untuk bosan atau tidak antusias (futur/fatrotan).

Secara bahasa, futur itu bermakna;
1. Putus setelah bersambung.
2. Berhenti setelah bergerak.
3. Malas setelah rajin.
4. Lambat setelah bergegas.
5. Pelan setelah sebelumnya cepat.

Dan secara leksikal, futur adalah penyakit hati yang pada stadium awal berupa kemalasan, menunda, atau berlambat-lambat dalam amal. Dan dalam stadium lanjut, berupa terhentinya sebuah agenda atau aktivitas secara keseluruhan.

Kadang kita yang menciptakan futur itu. Kita sendiri yang mengagendakannya.

Setelah Ramadhan tidak lagi ini dan tidak lagi itu. Atau sekian hari setelah haji tidak lagi beramal ini atau itu. Atau merencanakan bahwa setelah selesai umrah, amal ini dan itu tidak kita lakukan lagi. Dan semacamnya.

Padahal;
… Amal yang disukaiNya adalah amal yang langgeng meski sedikit atau tampak remeh..

Padahal …

Jangan kagum pada amal kecuali kita telah melihat akhirnya. Dan jangan merasa aman dengan futur-futur yang kita ciptakan. Jika ada malam, esok pagi belum tentu kita miliki. Dan jika ada pagi, dinginnya malam nanti belum tentu kita rasakan.

Allahumma a’inni alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika.

Jakarta, 16 Juli 2016.

Catatan;
Dari khutbah Jumat ustadz Abdul Muhith tanggal 15 Juli 2016 di masjid Al Muhajirin Gedung Pajak Madya Jakarta.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *