Inspirasi dari Keluarga Hafizh Al-Quran

Keluarga dr Hari

oleh : Robiah Al Adawiyah

Salah satu kebahagiaan dan keberuntungan bagi saya saat bisa bertemu apalagi dikunjungi oleh para alim, ulama, ustadz, dan sahabat-sahabat yang menginspirasi. Salah satunya maghrib kemarin. Setelah lama penasaran dengan sosok Dr.Sarmini, kemarin Allah takdirkan bisa bertemu. Beberapa kali suami beliau (Dr.Hari) mengunjungi rumah kami, namun beliau tdk serta.

Adalah pasangan Dr. Hari dan Dr.Sarmini, keduanya sahabat suami saya saat kuliah di Sudan. Mereka berdua meraih doktor di negri tersebut, menikah dan melahirkan 3 anak perempuan mereka di negeri itu pula, dan setelah pulang di Indonesia dikaruniakan lagi seorang putra.

Menarik, karena Dr. Sarmini mampu mendidik anak-anaknya lancar membaca Al Qur’an sebelum usia 5 th (PP Salimah pernah menerbitkan bukunya). Dr.Sarmini pun memiliki Rumah Qur’an sebagai pusat aktivitas syiar Al-Quran..

Kunjungan keluarga ‘Qur’ani’ ini kemarin sore membuat saya malu, namun berlanjut optimis.

Kekaguman pertama saya dan anak-anak dimulai saat mereka sekeluarga berkomunikasi antar mereka dengan bahasa Arab. Bahkan Abdullah (2,5th) lancar bercakap dengan umminya dengan bahasa Qur’an itu.

Selepas sholat maghrib, di sela-sela obrolan dengan suami saya dan Dr.Hari, saya mencoba mewawancarai beliau.

Saya : “Bahasa Setiap hari Arabic,Ustadzah?”
Dr. S : ” Kami selang-seling, tapi dominan bahasa Arab. Kami baru lebih intens dua-tiga tahun ini, terutama saat Abdullah mulai lahir.”

Saya sendiri tahu dari suami bahwa berbahasa arab antar suami istri, antar alumni Timur Tengah adalah cara mereka menjaga bahasa Arab. Duh, kasihan suami saya karena istrinya tak bisa bahasa arab hehe . Makanya anak-anak mereka juga lancar berbahasa Arab.

Berikut poin-poin yang inspirasi yang berhasil saya dulang saya sore kemarin.

Pertama, Menyuasanakan Komitmen dengan Qur’an

“Bagaimana menyuasanakan anak-anak sejak dini dengan qur’an?” tanya saya.

“Berkomitmen, bahwa Qur’an adalah awal segala ilmu. Qur’an dikuasai, semua ilmu ngikut. Kami home schooling. Maka banyak waktu untuk belajar sendiri,” Dr Sarmini menjawab sembari tersenyum. “Saya ini hobi rapat dengan anak. Saat liburan, kami hitung, yang benar-benar liburan itu sepekan. Saya katakan pada anak-anak bahwa liburan nanti akan ada banyak godaan.  Bepergian ke Ponorogo dan Jember, ziarah-ziarah (berkunjung), bertemu dengan sepupu-sepupu lain yang mungkin mereka buka tablet, HP dll. Antunna gimana? Apakah Qur’an akan libur atau gimana? Anak2 menjawab sendiri bahwa mereka tetap belajar, namun tidak menambah hafalan.”

Alhasil selama liburan, menurut beliau,  setelah shubuh mereka harus membaca 2 juz,  setelah itu selesai baru mereka tidak lagi saya panggil-panggil. Bebas, itu membantu kita hemat energi teriak-teriak. Intinya, mereka sudah isi awal harinya dengan Qur’an.

“Karena mereka biasa menghafal, tilawah 2 juz itu bukan sesuatu yang berat. Biasa itu… makanya di Rumah Quran saya, anak-anak biasa qiyamul lail 2 juz, dan baca quran 2 juz sehari.”

Di sini saya mulai malu. Kalah dengan ‘ustadzah-ustadzah kecil ini’…

Kedua, Generasi Berbeda Yang Tertuntun

Saya: “Bagaimana dengan internalisasi nilai qur’an?”
Dr.Sarmini: ” itu seumur hidup. Kita saja masih terus dibenerin dalam mengaplikasikan Quran dalam hidup kita. Apalagi anak-anak. Ya harus terus diingatkan dijelaskan hal-hal yang boleh dan tidak.

Tanamkan pada anak bahwa orang yang berpegang dengan Quran itu memang siap berbeda, kadang lebih banyak belajar daripada main-main, dan harus mengamalkan. Harus ada target bahwa kita mengajak anak menghafal untuk caracter building mereka kelak, bukan sekedar hafal.

Walaupun yang jelas, anak-anak tetaplah anak-anak. Bertengkar, kadang bete, yang ABG kadang sudah suka ngeyel, suka tantangan. Tapi, ana-anak yang sudah kita didik dengan Quran tetap akan lebih mudah kita arahkan. ”

Dr.Sarmini menyelingi dengan menebak karakter anak keempat kami yang ternyata mirip plek dengan anak ketiga beliau. “Dia pasti susah gemuk ni, karena temperamen dan moody ya. Harus kita buyarkan dulu emosi negatifnya, baru enjoy-lah mereka.” Haha betul juga.

Sulung mereka, Saudah ternyata hobby baca novel, sehingga langsung nyambung dengan Maura, anak pertama saya.

Simpulan saya, apapun kelebihan dan kekurangan yang anak-anak kita miliki, karakter bagaimanapun, hobbi dan talent positif apapun, tetap bisa nyambung dan lebih istimewa dengan celupan Qur’an

Ketiga, Mendidik Anak Membutuhkan Komitmen

Lagi-lagi, saya bertemu dengan ibu yang optimis dan konsisten. Saat saya tanya bagaimana mendidik anak-anak di rumah, saya sempat nyeletuk, “Wah kalau saya mungkin belum sanggup ustadzah dengan hafalan surat umminya masih belepotan begini.”

Beliau menjawab, “Kalau kita ambil mereka untuk kita didik sendiri, otomatis kita harus berkomitmen. Tidak ada yang ‘bantu’ soalnya. Nggak mungkin kita main-main dengan masa depan anak, kan? Maka insyaAllah abi uminya akan bekerja sama gimana utrujah mereka.

Mulai saja dari dia, anak kami kelima, usianya 3 tahun. Mulai dengan talaqqi, kemudian ajarkan kenal dan baca (Quran). Pelan-pelan bisa nanti 5 th insyaAllah sudah khatam dan lancar. Anak-anak kami khatam baca quran dibawah 5 tahun. Mulai 5 tahun masuk menghafal. Untuk Saudah dan Atiiqah satu halaman, untuk tipikal Nusaibah yg moody satu ayat sehari. ”

“Saudah, 11 th  sudah selesai 30 juz, dan dia mustami’an saya di LIPIA sejak umur 6 th. Aatiqah (9,5th) sudah 30 juz dan selesai Hadits Arba’in, Nusaibah dengan  karakter dia yang moody baru 25,5 juz… Abdullah (2,5th) sedang proses talaqqi dan pengenalan baca quran.”

Saya hanya bisa mengucap Masya Allah…!
Rasanya saya harus memperbaiki interaksi diri saya dulu dg Quran agar menular pada anak-anak. Bahkan saya kini sudah sering malu karena hafalan qur’an anak2 lebiiih banyak dari umminya

Begitulah… mungkin memang saya masih jauuuh untuk meniru. Namun semoga ada optimisme baru dalam mengasuh anak-anak, ada keberkahan dari interaksi kami dengan keluarga orang-orang berilmu seperti beliau.

Pukul 19.45 Dr.Hari dan Dr.Sarmini beserta anak2 mereka pamit lanjut perjalanan pulang ke Jakarta. Pertemuan dengan ahlul Qur’an selalu menyisakan rindu dan takzim untuk bertemu kembali. SemogaAllah menjaga mereka. Semoga menginspirasi

dari FB : Vida Robiah Al-Adawiyah

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *