Bunda, Mari Cetak Pahlawan Dari Rumah Kita

cropped-20160221_114331.jpg

Oleh Afifah Afra

Di bulan Agustus, bangsa kita memperingati hari ulang tahun kemerdekaannya. Kita terbiasa mengenang jasa para pahlawan yang telah menyumbangkan harta, tenaga, pikiran bahkan nyawanya untuk kemerdekaan kita. Tanpa kiprah mereka, mungkin hingga kini kita masih menjadi bangsa jajahan. Namun, tidakkah kaum ibu sekalian berpikir, bahwa sebenarnya kita pun bisa mencetak pahlawan-pahlawan dari rumah kita? Sebab, seorang ibu adalah pendidik utama bagi anak-anaknya.

Apa yang bisa dilakukan seorang ibu untuk melahirkan para pahlawan dari rumahnya? Ada beberapa bekal pendidikan yang bisa kita lakukan.

  1. Pendidikan Agama

Tidak bisa dipungkiri, bahwa agama yang kuat, akan membentengi anak-anak kita dari perilaku yang buruk. Mari kita ajari anak-anak kita untuk menjadi seorang pemeluk agama yang taat. Iman yang kuat akan menjadikan anak kita terhindar dari godaan-godaan nafsu duniawi yang menjerumuskan seperti harta, takhta dan wanita.

 

  1. Pendidikan Karakter (Adab)

Karakter adalah pancaran dari kekuatan iman yang dimiliki seseorang. Artinya, jika keimanan telah terpancang kuat dalam jiwa seseorang, maka dengan sendirinya ia punya dorongan untuk melakukan sesuatu yang baik. Karakter merupakan suatu hal yang secara spontan muncul jika berhadapan dengan sesuatu. Misalnya, seorang anak akan segera mengeluarkan uang ketika berhadapan dengan yang membutuhkan, tanpa harus berpikir panjang dan menimbang-nimbang. Jadi, karakter adalah sesuatu yang muncul dari alam bawah sadar, yang terjadi karena kebiasaan.

Keluarga adalah wahana yang terbaik untuk terbentuknya karakter yang mulia. Penanaman kebiasaan yang baik, hendaknya memang dilakukan sedini mungkin, dan ini adalah prestasi terbaik yang berikan orang tua kepada anak-anaknya. Mari ajari anak kita untuk jujur. Lebih baik nilai buruk, tapi jujur, ketimbang nilai unggul tapi hasil mencontek. Mari ajari anak bersikap adil, dengan cara melihat kita bersikap adil kepada sesama. Sebab, anak sebenarnya hanya meng-copy apa yang dia lihat dari orang-orang sekitarnya. Jika anak terbiasa melihat ibunya bergosip, marah-marah, menganjurkan untuk mencontek, berbuat curang, maka hal itu juga yang akan terekam pada anak kita.

  1. Pendidikan Fisik

Pendidikan fisik juga suatu hal yang penting, karena tanpa fisik yang kuat, fitrah, potensi dan bakat yang dimiliki anak tidak akan termanfaatkan secara optimal untuk hal-hal yang berguna bagi umat. Pendidikan fisik dilakukan dalam beberapa hal, misalnya menjaga kebersihan, baik kebersihan badan, pakaian, tempat tidur, dan sebagainya. Mengajari anak untuk tampil rapi, indah dan pintar berhias dengan hiasan yang sopan dan sesuai adat ketimuran.

Memakan dan meminum sesuatu yang halal serta baik, yakni makanan yang berkualitas, baik dari gizi maupun lainnya, misalnya tidak busuk, tidak mengandung zat yang berbahaya dan sebagainya. Saat ini banyak jajanan yang tidak sehat, namun dikemas sangat menarik, dan anak-anak kita terbiasa mengonsumsinya. Mari kita coba kurangi bahwa hilangkan kebiasaan jajanan tidak sehat itu. Anak kita adalah calon pahlawan, harus diberi makanan yang baik.

Anak kita juga kita ajari untuk rajin berolahraga, selain membuat tubuh kuat, rajin berolahraga juga akan membuat kita terhindar dari berbagai penyakit berat.

  1. Pendidikan Akal (Intelektual)

Akal adalah satu anugerah Tuhan kepada manusia yang harus kita optimalkan pemanfaatannya.  Produk dari akal adalah ilmu. Pendidikan akal dimulai dari pemberian gizi yang baik, yang akan membantu optimalisasi pertumbuhan otak. Menurut para ahli, dari bayi mulai lahir hingga berusia 3 tahun, kapasitas otaknya tumbuh hingga 90% kapasitas dewasanya. Inilah yang disebut periode emas (golden age). Jika pada umur-umur ini orang tua lalai untuk memberi gizi yang dibutuhkan otak, serta tidak menstimulasi otak dengan maksimal, maka akan ada kesempatan emas yang terengut dan tak akan datang kembali pada umur-umur selanjutnya.

Sungguh, potensi yang tersimpan dalam otak manusia begitu luar biasa. Dari otak yang hanya seberat 1,5 kg ini terdapat bermilyar-milyar sel saraf. Richard Restak M.D, seorang ilmuwan, mengatakan bahwa otak manusia bisa menyimpan informasi lebih banyak dari seluruh perpustakaan di dunia. Otak manusia, menurut pakar, bisa menyimpan data lebih dari satu juta gigabyte atau sama dengan kemampuan menyimpan informasi sekitar 1000 komputer canggih. Sangat sayang jika otak anak-anak kita tidak diasah dan justru dibiarkan terbengkalai begitu saja.

  1. Pendidikan Kejiwaan (Psikis)

Pendidikan kejiwaan—yakni memunculkan emosi dan spiritual yang matang—harus semakin digencarkan di zaman ini, di mana revolusi teknologi telah memungkinkan anak-anak kita mendapatkan pendidikan intelektual lebih baik dari zaman sebelumnya. Kecerdasan akal yang tak diimbangi dengan kecerdasan psikis, sering memunculkan anomali-anomali yang mengejutkan. Masih ingatkah Anda tentang seorang Cho Seung Hui yang membantai mahasiswa di kampus Universitas Virginia Tech beberapa masa yang lalu? Konon, Cho Seung Hui adalah seorang yang sangat cerdas, namun sangat labil dalam masalah emosi. Ia pun berhasil tampil sebagai pembunuh berdarah dingin. Menghamburkan lebih dari 170 peluru, ia berhasil menghabisi 32 nyawa dan setelah itu ia membunuh dirinya sendiri.

Sesungguhnya, anak berkembang sesuai dengan apa yang dia dapatkan. Ingatlah puisi Dorothy Law Nolte berikut ini:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri

 

Sikap menyayangi, mendukung, bersahabat, memberi dorongan serta pujian, bertoleransi dan melakukan anak dengan baik, akan sangat berpengaruh terhadap aspek kejiwaan anak. Sebaliknya, sikap mencela, mengacuhkan, memusuhi dan menghina, hanya akan membuat si anak senantiasa berkecamuk dalam pemikiran-pemikiran negatif, yang berdampak pada mental yang tak stabil.

 

  1. Pendidikan Sosial

Seorang anak harus diajari untuk berinteraksi dengan orang lain, dimulai dari lingkungan terkecilnya, yakni keluarga, yakni ayah, ibu dan saudara-saudara. Interaksi yang harmonis, bisa jadi berasal dari kita, kaum ibu. Jika ibu bisa mengambil peran secara baik, maka perseteruan kakak dan adik tak akan terjadi di luar batas kewajaran. Peran ini disebut sebagai mediator, penengah yang adil. Jika seorang ibu sudah memihak, maka ia telah mengajari anak untuk bersikap tidak netral, yang akan membekas di sanubari sang anak.

Menanamkan kesadaran kepada anak-anak yang lebih tua, seringkali lebih mudah. Akan tetapi, jangan suruh mereka untuk selalu mengalah kepada si kecil. Apalagi sampai menurunkan martabat sang kakak di depan adik, misalnya dengan berkata, “Kamu nakal!” Jika Anda hendak menasihati si kakak, sebaiknya di ruang khusus yang terpisah dengan adiknya—demikian juga sebaliknya.

Interaksi dengan orang di luar keluarga juga harus dibangun. Ajari anak untuk menghargai yang lebih tua—misalnya dengan mencium tangannya saat bertemu—serta menyayangi yang lebih muda—misalnya dengan membelai rambutnya secara lembut. Selain itu, jangan terlalu membatasi pergaulan anak-anak kita, misalnya dengan selalu mengurung diri di rumah karena takut jika dipengaruhi pergaulan anak-anak di sekitar rumah kita. Anak-anak juga perlu bersosialisasi, namun pantaulah mereka selalu, dan berilah konter atas apa-apa yang Anda anggap tidak tepat, yang berasal dari lingkungan sekitar, tentu saja dengan cara yang bijak.

  1. Pendidikan Seksual

Pada beberapa masyarakat, mereka menganggap tabu memberikan pendidikan seksual kepada anak-anaknya, sehingga informasi tentang seks justru didapat dari pihak luar, yang terkadang hanya berupa informasi sepotong-sepotong yang malah menyesatkan. Pendidikan seksual diawali sejak kanak-kanak, yakni dari pengenalan perbedaan antara lelaki dan perempuan yang diikuti dengan pembedaan cara berpakaian, cara bermain dan sebagainya. Anak-anak lelaki dan perempuan juga harus mulai diajarkan untuk terpisah tempat tidurnya.

Ketika anak memasuki masa tamyiz (pra pubertas, sekitar 7-10 tahun), ajarilah ia untuk meminta izin ketika memasuki tempat-tempat pribadi—seperti kamar tidur—baik milik orang tua atau anggota keluarga yang lain. Ketika anak memasuki usia pubertas (remaja), maka anak mulai dipahamkan dengan sistem reproduksi seperti haid dan mimpi basah, serta berbagai konsekuensi yang harus ditanggung. Akan tetapi, pada masa-masa ini, hendaklah mereka dijauhkan dari berbagai macam hal yang dapat merangsang gairah seksual. Mereka juga harus telah menutup aurat.

Sedangkan bila anak telah memasuki usia siap menikah, maka ajarkanlah padanya etika berhubungan seks, serta berbagai hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, seperti hamil, melahirkan, menyusui dan sebagainya. Sedangkan pada anak lelaki, kewajiban untuk memberi nafkah lebih ditekankan dibanding perempuan.

  1. Pendidikan Finansial (Keuangan)

Masalah finansial, mulai dari cara mencari penghasilan, mengatur penghasilan, memanfaatkan hingga tanggung jawab yang berkaitan dengan hal tersebut seperti zakat, infak, sedekah, harus sejak dini ditanamkan kepada anak. Kepada anak lelaki, tanamkan kepada mereka, bahwa tanggung jawab lelaki adalah memberi nafkah kepada anak istrinya. Kepada perempuan, didiklah untuk bisa merasa cukup dengan yang ada dan tidak mengeluh dengan kesempitan rezeki yang mungkin akan dirasakan. Ajarkanlah mereka nilai uang, serta sikap menghargai uang. Jangan gelontorkan uang saku secara berlebihan, meskipun Anda mampu untuk itu. Bantulah mereka untuk merencanakan keuangan mereka, termasuk menabung dan belajar investasi.

Akan tetapi, perlu diingat, mengajari anak hidup hemat, bukan berarti membentuk mereka untuk menjadi pelit. Justru mereka harus dirangsang untuk bersikap dermawan. Setelah anak beranjak agak besar, ajari mereka untuk mencari penghasilan, misalnya dengan berdagang. Jangan tekankan pada hasil, tetapi lebih pada semangat mereka untuk berusaha mandiri. Pelan-pelan, jiwa wirausaha mereka akan terpupuk. Bagaimanapun, menjadi seorang pengusaha adalah cara yang lebih baik untuk mandiri secara finansial.

  1. Pendidikan Leadership

Membangkitkan rasa kepemimpinan dimulai dari membantu anak untuk memahami dirinya sendiri, mengetahui peta diri—positif negatifnya, mengoptimalkan yang positif dan meminimalisir yang negatif, dan oleh karenanya, anak mampu menjadi diri sendiri. Bukan sebaliknya, senantiasa melindungi si anak dengan kebesaran nama Anda dan suami, serta berharap anak-anak Anda akan mendapatkan kemudahan dengan berlindung di bawah ‘sayap’ Anda. Ingatlah, tak akan selamanya Anda bersama dengannya. Suatu saat, anak-anak yang Anda timang-timang itu, harus berjalan di atas muka bumi sebagai dirinya sendiri, yang memiliki tanggung jawab terhadap keluarga mereka.

Usai anak mampu berjalan di garis lurus—yakni garis yang sesuai dengan potensi dan bakat mereka, bantulah agar ia mampu membentuk tim. Pada saat ia berada di tim, tak harus ia menjadi ketua untuk menumbuhkan leadership-nya. Cukup jika ia mampu bersikap amanah terhadap apa-apa yang dibebankan kepada mereka, berarti sikap kepemimpinannya mulai terbentuk.

Pada anak-anak yang lebih tua, apalagi yang sulung, tuntutan untuk memiliki sikap kepemimpinan biasa lebih tinggi. Biasanya, secara otomatis, anak akan mampu memimpin adik-adiknya. Akan tetapi, jangan biarkan mereka mendominasi anak-anak yang lebih muda, dan jangan biarkan pula anak-anak yang lebih muda merasa terus hidup di bawah bayang-bayang mereka, bahkan merasa nyaman dan enjoy selamanya. Berilah jatah bergilir kepada mereka untuk menjadi pemimpin. Misalnya, Anda membuat kegiatan wisata keluarga. Anda bisa mengarahkan forum keluarga untuk memilih—misalnya anak sulung anda sebagai ketua panitia. Besoknya, ketika Anda kedatangan tamu dari keluarga mertua, pilihlah sang adik sebagai ketua panitia. Begitu seterusnya.

Mari kita cetak anak-anak kita untuk menjadi manusia seutuhnya. (@afifahafra79).

 

You may also like...

2 Responses

  1. Afifah Afra says:

    Terimakasih atas dimuatnya artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *