Meniti Karier Sebagi Ibu Hingga ke Surga

Oleh: Vida Robi’ah Al- Adawiyah

Bukan sekali saya ditanya banyak orang kerja dimana? Kerjanya apa? Ngajar atau kantoran? Di mana? Hehe

Dan atas pertanyaan-pertanyaan itu saya menjawab santai, “Saya ‘kerja’ di rumah, momong dan bakulan kue.
Begitupun saat di CV, saya dengan mantap menulis ‘ibu rumahtangga’ di kolom pekerjaan.”

Akhir- akhir ini, saya seolah semakin menemukan bahwa semestinya menjadi ayah, ibu, orangtua bukan lagi ‘hanya pekerjaan’ namun saya akan menjadikannya sebagai karier!

Sejatinya, kita sedang meniti karier sebagai ibu. Bermula dari Allah mempertemukan dengan pasangan hidup kita, memberi anugrah kehamilan, mengalami sebuah perjuangan melahirkan, menyusui, mengasuh, mendidik, menyertai anak- anak, memperjuangkan cita-cita mereka, dan seterusnya… hingga anak-anak kita kokoh berdiri sendiri.┬áBukankah itu capaian- capaian yang membutuhkan proses dan bukan sekedar ‘pekerjaan’ yang berbuah upah?

Perusahaan mana, suami mana yang sanggup menggaji serentetan ‘pekerjaan’ seorang ibu itu?

Maka, memang menjadi seorang ibu seumpama sebuah karier. Ia adalah sebuah pengabdian penuh suka cita,bukan sekedar pekerjaan yang sering melahirkan nelangsa saat penat mendera. Bukankah begitu orang yang meniti karier atas pekerjaan yang disukai? Pasti ia akan punya jiwa pengabdian.

Saat kita lakukan peran keibuan/ keayahan sebagai karier,maka ia adalah ketekunan yang lahir dari sebuah ‘passion’ yang kita hayati di setiap fase menjalaninya. Kadang memang menguji kesabaran,namun kita terus dan lagi-lagi tetap menjalaninya,karena ia adalah jiwa kita

Maka, sebagaimana karier dalam pekerjaan duniawi kita, begitupun karier kita sebagai ibu. Ada capaian-capaian yang perlu kita raih, ada evaluasi dalam mendidik anak, ada up grading ilmu, ada peningkatan life skill dan ruhiyah yang prima, ada proses untuk terus menaikkan jenjang karier kita.

Sungguh, semua ibu berkarier untuk mensukseskan keluarganya meraih mulia dunia dan akhirat. Sudahi saja perdebatan dan dikotomi. Karena menjadi ‘wanita karier’ sebagai ibu lebih memerlukan energi.

Ayo bu, kita meniti karier atas peran kita sebagai ibu. Agar kita kelak sukses di hadapan Allah. Seperti Khansa yang mempersembahkan anak-anaknya sebagai syuhada, seperti Asma’ binti Abu Bakr yang teguh dan meneguhkan hingga renta, seperti Maryam yang terjaga kehormatannya, seperti Ummu Sulaim yang cerdas dalam tutur dan cerdik cendekia. Selamat hari Ibu, semoga Allah memberikan kemuliaan hingga ke surga!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *