Mengenal Salahuddin Al-Ayyubi, Sang Pembebas Baitul Maqids

Salahuddin lahir dari sebuah keluarga Kurdi di Tikrit. Ayahnya, Najmuddin Ayyub, adalah seorang gubernur wilayah Balbek. Salahuddin sendiri tinggal Damsyik di kawasan istana Al Malik Nuruddin, Raja Aleppo selama 10 tahun.

Saat Salahuddin lahir, negara-negara Islam di Arab dikuasai oleh tentara Salib, yaitu tentara yang terdiri atas gabungan negara-negara Kristen dari Eropa, seperti Inggris, Perancis, Spanyol. Oleh karena itu, belajar kemiliteran menjadi sangat penting jika umat Islam ingin membebaskan dirinya dari jajahan kaum salibis.

salahuddin-al-ayyubi

sumber foto: https://insists.id

Salahuddin menerima latihan ketentaraan dari ayah saudaranya yang bernama Shirkuh, yang waktu itu  merupakan panglima Nuruddin. Sebagai panglima, Shirkuh sering mewakili Nuruddin dalam merebut kerajaan Fatimiyyah di Mesir tahun 1160. Salahuddin pun kemudian dilantik menjadi panglima pada tahun 1169.

Pada mulanya Salahuddin diragukan kemampuannya oleh banyak orang. Akan tetapi, Al Malik Nuruddin, Sultan Aleppo memberi kepercayaan padanya untuk merebut Mesir.

Waktu itu Mesir diperintah oleh sebuah kerajaan Syiah yang tidak bernaung di bawah khalifah Islam. Penasihat utama Salahuddin, Bahauddin bin Shaddad, menceritakan, Salahuddin merasa sangat berat dan memaksa diri untuk pergi ke Mesir.

Meskipun demikian, Salahuddin tetap berangkat ke Mesir bersama pasukannya, Salahuddin menyerbu kerajaan Syiah itu di sana. Atas izin Allah, Salahuddin dan pasukannya menang.

Salahuddin mengambil alih tugas berat untuk mempertahankan mesir dari serangan tentara Salib yang bernaung di bawah kerajaan Baitul Maqdis yang dipimpin oleh Al Maric I.

Setelah berhasil menguasai Mesir, Salahuddin berpikir bahwa Allah memberikan tanggung jawab kepadanya, yaitu memimpin Mesir dan membebaskannya dari penjajahan Inggris. Ia merasa tugas itu sangat berat dan hanya dapat dilaksanakan jika ia bersungguh-sungguh.

Kehidupan Salahuddin pun berubah salam segala hal. Ia tidak suka lagi dengan kesenangan hidup. Ia hanya memikirkan bagaimana rakyatnya dapat hidup dengan tenang dan damai. Salahuddin juga bertambah alim, disiplin, dan sederhana.

Tidak ada yang dipikirkan Salahuddin waktu itu selain berjihad di jalan Allah. Semangatnya berkobar-kobar untuk menentang tentara Salib. Ia selalu berbicara tentang jihad dan mengumpulkan senjata untuk tujuan jihad.

Dalam medan peperangan, Salahuddin bagaikan seekor singa yang marah karena kehilangan anaknya. Ia bergerak dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran yang lain untuk memberikan semangat kepada pasukannya. Salahuddin juga pergi ke seluruh pelosok tanah air dan dengan mata yang berlinang mengajak manusia agar bangkit membela Islam.

Pada 24 Rabi’ul Akhir 583 H, sebuah peperangan sengit terjadi antara tentara Salahuddin dan tentara Salib di kawasan Tiberias di kaki bukit Hittin. Tentara Salib kalah. Dalam peperangan itu raja Kristen yang memerintah Palestina dapat ditawan beserta adiknya Reginald dari Chatillon. Pembesar-pembesar lain yang dapat ditawan, antara lain Joseelin dari Courtenay, Humphrey dari Torron.

Kemenangan dalam perang Hittin telah membuka jalan bagi Salahuddin untuk merebut Baitul Maqdis di Palestina.

Salahuddin Al Ayyubi dan pasukannya mamasuki Baitul Maqdis, tempat suci Rasulullah naik ke langit pada 27 Rajab 583, tepat pada hari Isra’ Mi’raj. Inilah kemenangan atas kemenangan. Orang-orang berduyun-duyun datang memenuhi Baitul Maqdis, Palestina. Mereka adalah para ulama, pembesar-pembesar, para pengusaha dan orang-orang biasa. Mereka merayakan kemenangan itu dengan suka cita dan penuh rasa syukur ke hadirat Allah swt. Ulama-ulama Mesir dan Syiria pun datang ke dua kota suci itu dan mengucapkan selamat kepada Salahuddin Al-Ayyubi, Sang penguasa Mesir dan pembebas Palestina.

Ummi Entin

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *